Percayakah saya dengan pemilu yang kerap disebut pesta demokrasi. Jika itu adalah buah dari demokrasi, please, sorry for that. I don't like democrazy coz its not believe in God. No place for God in democrazy. I believe in human, just not believe in with democrazy. It's not human. Plizzz, check out ur agenda ... where is it? where is God ...
menjelang "ramadhan" ... Allah with us ..!!
site meter
Minggu, 25 Juli 2010
Kamis, 22 Juli 2010
Cut Tari dan Zaim Saidi
Adakah saya ingin menyandingkan Cut Tari dan Zaim Saidi? Tentu tidak, tidak perlu dan tidak ada kerjaan untuk itu. Saya hanya ingin membahas soal pornografi yang dilakukan oleh Cut Tari dalam kacamata dan titik pandang seorang Zaim Saidi. Untuk itulah, bapak 4 orang anak ini bicara dalam "Habis Demokrasi, Terbitlah Pornografi". Bisa dibaca dalam penuh konsentrasi di www.zaimsaidi.org. Selamat menikmati!
Rabu, 14 Juli 2010
"le Meridien"
........Back to Jakarta is a pleasure .. it is back to le Meridien ... www.tripadvisor.com
Selasa, 13 Juli 2010
on the laptop
akhirnya berjumpa juga saya dengan salah seorang penulis buku "Reconstruction After Disasters : Lessons from Aceh". Best takzim for Mr Ismet Fanany, Indonesians, long in Melbourne. "Kita mengikuti perintah Tuhan untuk bertebaran di muka bumi," begitu katanya menanggapi komentar saya tentang "kegemarannya" bertualang dan merantau.
Tak banyak yang ingin saya bagi untuk anda hanya sekedar menyampaikan bahwa saya respek untuk segala bentuk kegiatan riset yang kemudian dipublikasikan dalam sebuah buku. Riset butuh konsentrasi dan dana yang tidak sedikit sehingga dokumentasi dalam buku akan memberikan kontribusi berharga bagi warisan informasi untuk generasi penerus bangsa. Catatan sejarah tersimpan disana.
Viva piala dunia:) Ihhh, world cup pisan ... Kok lagunya keren amat yak???
From on the Laptop
Jakarta July 3, 2010
Part 3
Apa yang saya bincangkan ketika ketemu Mr Ismet? Yah, perkara humaniora atau ARTS. ART itu seni. Mr Ismet adalah dosen di Aussie, dimana Opera House ada disana dan Adelaide, adalah sebuah nama kota. “Aku pernah ke Bandung setelah dari Padang, kota itu pernah disinggahi lalu berlanjut di Malang. Agaknya jalanku memang jauh. Amerika menyapa setelah itu, apa pun kukerjakan disana hingga aku bertemu Rebecca, gadis Amerika yang telah memberiku dua orang anak yang kini sudah besar. Kami sekarang menetap di Melbourne. Deakin menitipkan banyak mahasiswa yang ingin belajar tentang Indonesia sehingga tiap tahun aku harus mampir ke Negara ini. Namun, sayang … lama kampung tak kusinggahi.”
Pak Ismet yang terhormat, terima kasih atas keramahan anda membayarkan kamar semalam saja di Jakarta. Saya harus belajar lagi menggesek kartu kunci kamar agar bisa beristirahat dengan enak. Namun sayang, dari lantai empat hotel bintang 5 itu saya tidak melihat Cikapundung. Rasanya agak sedikit rindu saya melihat keruhnya air sungai yang membelah sebagian besar Jakarta itu. Saya berjalan ke arah Ancol – Tanjung Priok , mungkin dulu Fatahillah pernah main2 disini. Air di sungai masih keruh, sepertinya ketika hujan deras turun, Cengkareng masih sedikit terganggu dengan air laut akan yang naik ke daratan.
Part 1
Back to Jakarta, it’s a pleasure. A big place in Indonesia. Le Meridien, it’s a hidden hotel. When u across Sudirman street you can see it, “le Meridien”, hhhummm. Why I can’t see clearly? My one glass was lost and I learn to see without glasses. Yap, I must try it and don’t be hesitate asking a answer, how the way I can reach it? Don’t forget, back to Jakarta is back to le Meridien!!
Part 2
Membawa pakaian basah ke sebuah hotel, emang baru nyuci dimana? Sungai Cikapundungkah? Tak terlihat dari sini. Dari lantai 4 “le Meridien” yang terlihat adalah deru kendaraan melaju dalam kecepatan rata-rata. Mencuci di sungai lama tak kita lakoni ketika tinggal di sebuah kota modern sebab air yang deras sudah disalurkan dengan sangat rapi melalui pipa-pipa yang dapat diakses dengan keran air. Sensasi mencuci di sungai mungkin hanya hadir dalam imajinasi seperti ingatan akan bidadari yang turun dari kahyangan ke bumi lalu mandi di sungai-sungai tanpa kembang tujuh rupa.
Tak banyak yang ingin saya bagi untuk anda hanya sekedar menyampaikan bahwa saya respek untuk segala bentuk kegiatan riset yang kemudian dipublikasikan dalam sebuah buku. Riset butuh konsentrasi dan dana yang tidak sedikit sehingga dokumentasi dalam buku akan memberikan kontribusi berharga bagi warisan informasi untuk generasi penerus bangsa. Catatan sejarah tersimpan disana.
Viva piala dunia:) Ihhh, world cup pisan ... Kok lagunya keren amat yak???
From on the Laptop
Jakarta July 3, 2010
Part 3
Apa yang saya bincangkan ketika ketemu Mr Ismet? Yah, perkara humaniora atau ARTS. ART itu seni. Mr Ismet adalah dosen di Aussie, dimana Opera House ada disana dan Adelaide, adalah sebuah nama kota. “Aku pernah ke Bandung setelah dari Padang, kota itu pernah disinggahi lalu berlanjut di Malang. Agaknya jalanku memang jauh. Amerika menyapa setelah itu, apa pun kukerjakan disana hingga aku bertemu Rebecca, gadis Amerika yang telah memberiku dua orang anak yang kini sudah besar. Kami sekarang menetap di Melbourne. Deakin menitipkan banyak mahasiswa yang ingin belajar tentang Indonesia sehingga tiap tahun aku harus mampir ke Negara ini. Namun, sayang … lama kampung tak kusinggahi.”
Pak Ismet yang terhormat, terima kasih atas keramahan anda membayarkan kamar semalam saja di Jakarta. Saya harus belajar lagi menggesek kartu kunci kamar agar bisa beristirahat dengan enak. Namun sayang, dari lantai empat hotel bintang 5 itu saya tidak melihat Cikapundung. Rasanya agak sedikit rindu saya melihat keruhnya air sungai yang membelah sebagian besar Jakarta itu. Saya berjalan ke arah Ancol – Tanjung Priok , mungkin dulu Fatahillah pernah main2 disini. Air di sungai masih keruh, sepertinya ketika hujan deras turun, Cengkareng masih sedikit terganggu dengan air laut akan yang naik ke daratan.
Part 1
Back to Jakarta, it’s a pleasure. A big place in Indonesia. Le Meridien, it’s a hidden hotel. When u across Sudirman street you can see it, “le Meridien”, hhhummm. Why I can’t see clearly? My one glass was lost and I learn to see without glasses. Yap, I must try it and don’t be hesitate asking a answer, how the way I can reach it? Don’t forget, back to Jakarta is back to le Meridien!!
Part 2
Membawa pakaian basah ke sebuah hotel, emang baru nyuci dimana? Sungai Cikapundungkah? Tak terlihat dari sini. Dari lantai 4 “le Meridien” yang terlihat adalah deru kendaraan melaju dalam kecepatan rata-rata. Mencuci di sungai lama tak kita lakoni ketika tinggal di sebuah kota modern sebab air yang deras sudah disalurkan dengan sangat rapi melalui pipa-pipa yang dapat diakses dengan keran air. Sensasi mencuci di sungai mungkin hanya hadir dalam imajinasi seperti ingatan akan bidadari yang turun dari kahyangan ke bumi lalu mandi di sungai-sungai tanpa kembang tujuh rupa.
Kamis, 17 Juni 2010
Land of Brother
Saya masih di tanah Abang bukan Tanah Alu (14/06). Tidak ada lagi keliatan sisa-sisa kebakaran tempo doeloe, yang terasa adalah geliat perdagangan, di antara langkah tatih tukang angkut barang yang membawa barang sekilo lebih. Patung-patung masih tetap nangkring di depan toko baju dan gantungannya. Niat mau puasa sunat tapi kenapa sate ayam yang sedang dibakar di depan rumah gadang tercium kenikmatannya? Subhanallah ...
Eits, ... entar dulu ... berhenti!!!
Sssssss .... Tak tik tuk ... Kalo saya mau ke pintu Selatan, gimana caranya? Ibu sekarang dimana? Di pintu Utara ... Wah, ... kudu nyebrang, bu , .... lewati rel kereta api, liat kiri kanan, ati-ati nabrak. Tq ya. Eits, bayar dulu donk peronnya. BAYAR? Berapa? Cuma 2500 perak. Uang perak maksud lo? Enggaklah, rupiah. 2 lembar uang seribuan tambah satu koin gopek. Fulus, man ... Nih, gua bayar .... Silahkan masuk, ladies ... !
Sensasi Bertanam Anggrek Bersama Java Anggrek
Java Anggrek, bukan anggrek hanya untuk orang Jawa. Itu sebuah nama untuk usaha pembibitan anggrek botolan yang dimiliki Avian wicaksono dan istrinya, Fitri Sariputri Aswari. Sudah sejak tahun .... pasangan Jawa ini bertanam anggrek. Bukan juga karena alumnus Biologi Universitas Brawijaya, Mbak Fitri jadi suka anggrek. Sang ibu yang berdomisili di Beji, Depok, memang sejak lama memiliki kegemaran ini dan sepertinya ini juga menjadi pemicu bagi Mbak Fitri untuk menseriusi usaha ini dalam jangka panjang. Jadilah Java Anggrek yang berlokasi di Malang ini masih terus menerima pesanan anggrek botolan berjenis ; phalanaeopsis, ryncostilis, vanda, cattleya. Pesan buruan, tapi jangan lupa bayar ya ... segera sang courier Pahala Kencana mengantarkannya hingga ke depan rumah. Itu nama bis besar, bukan kereta api ....
Langganan:
Postingan (Atom)