Namanya Abbas Firman. Panggil saja ia dengan sebutan Kang Abbas. Kang adalah panggilan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Sunda. Sebab ia pernah "menetap" di Bandung masa kuliah, tentu panggilan ini akrab juga buatnya. Ia masih memiliki pertalian dengan Imam Bonjol (dari garis sang ayah), seorang pemimpin Perang Padri melawan Belanda dan merupakan salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia kelahiran Sumatera Barat. Oleh karena itu pula, juga lumrah jika kalian menyebutnya dengan Uda.Tapi tanya dulu pada orangnya ya, dia rela dipanggil dengan sebutan apa. Hmmmm ....
Nah, ketika gempa akhir September 2009 lalu, doi lagi di Padang dan menjadi "bagian" dari tragedi itu. Lihat saja kesaksiannya di www.facebook.com/abbasfirman.
Perhatiannya yang sangat tinggi terhadap kondisi berkembang, membuatnya tak bisa diam. Mungkin kalau saja Tuhan tidak membuatnya berdiam diri karena asam urat, dalam 24 jam dia sudah melayang entah kemana. Tidak percaya bagaimana gaibnya dia? Coba saja cek uda satu ini ke :
1. www.islamhariini.org
2. www.islamhariini.wordpress.com
3. www.shadhilliya.wordpress.com
4. www.enjoyduren.wordpress.com
Lihat saja komentar-komentarnya terhadap situasi terkini. Kalau ada yang terasa pedas, jangan kaget, sebab begitulah akibat dari darah Minang yang dianutnya. Hehehehe ... apalah pula hubungannya ya? Memang ini kesan yang rada menyesatkan. Orang-orang Minang memang identik dengan "pedas". Gara-gara menu lado (baca : cabai) yang memang selalu menjadi menu wajib di setiap warung padang besar/ kaki lima dan meja-meja makan urang minang:).
Tapi jangan salah, dia juga punya perhatian yang tinggi terhadap persoalan sosial dan anak-anak. Ketika saya, suami, dan beberapa orang teman membuat "sekolah" gratis kecil-kecilan buat anak-anak di sekitar rumah kontrakan kami 2008 silam, Kang Abbas adalah pembuat logo dan memberikan sumbang saran untuk konsepnya. Wuihhh, keren kan. Lihat logo kreasinya di postingan sebelumnya (baca : Sebuah Kisah tentang Little Star Nusantara). Tidak heran sebab ia memang suka menggambar dan juga sempat bersekolah di interior design, art and design faculty, ITB. Good luck for him dan silahkan berkenalan ... !
site meter
Tampilkan postingan dengan label gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gempa. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Oktober 2009
Rabu, 30 September 2009
Hanya Menunggu Waktu
Padang,30 September 2009,Maghrib
Pesan singkat mampir di handphone GSM saya. Padang gempa 7,6 skala richter. GEMPA TEKTONIK (lagi) di tanah Minangkabau, negeri dengan pesona berbagai danau. Saya buka facebook, sudah mulai rame. "Sudah kontak kampung, Dek?" sapa kakak saya. Hmmm ... saya kehilangan satu nomor sodara saya, teman "bertengkar", si gendut ANDI yang sempat menelpon saya belum lama ini. Semoga semuanya baik-baik saja .... Coba beberapa nomer. Belum ada yang masuk. Syukurlah, masih ada yang bisa nyambung tapi posisinya bukan di Padang atau kampung ... namun di Bandung. Hehehe ... Tante saya yang memang sudah lama dan beranak pinak di Bandung itu mengabarkan, parah ... ada yang tewas, namun ada juga yang berhasil selamat sementara tempat yang didiaminya ambruk dan hancur. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Semua milik TUHAN, akan kembali lagi pada-Nya.
Ingatan saya kembali ke masa-masa kecil ketika "bermain" di kampung, tanah orang tua kami. Makan rendang belut ... wuiihhh ... dodol yang dimasak di wajan sebesar danau:) Kembali lagi ketika saya tengah kuliah, menyusuri pesonanya Sumatera Barat. Menjejakkan kaki di atas kampus Universitas Andalas yang megah itu. Konon disebut terbesar di Asia Tenggara. Menikmati pemandangan horizon, langit, gunung tinggi, dan danau di seberang sana. Bermain dengan para sepupu di pinggir pantai kota Padang. Nikmat. Subhanallah.
Namun .. kini rekaman keindahan itu nyaris hilang ... bagaimana gempa telah mengobrak abrik tatanan kota dan daerah, kampung leluhur .... seperti rekaman gempa dan tsunami yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam 2004 silam, tempat kelahiran saya.
Gempa dengan kekuatan 7,6 skala Richter di Padang Pariaman, Sumbar, dikenal sebagai wilayah gempa. Tidak heran bila kemudian terjadi gempa. Ini adalah gempa besar yang diprediksikan (detikcom). Namun sayangnya, saya belum pernah "berkunjung" ke Padang Pariaman, kampungnya Si Ajo, pedagang sate Padang yang pada masa lalu berjualan sate keliling di komplek perumahan. "Res, tusuknya dibalikin lagi, ya! Ada-ada saja uda satu itu, dmanakah dia berada kini?
"Itu sudah diprediksi. Mudah-mudahan ini gempa besar terakhir yang kita tunggu," kata Direktur Teknologi Sumber Daya Mineral BPPT Yusuf Surachman melalui telepon, Rabu (30/9/2009). Menurut pakar gempa ini, gempa di kawasan itu tidak ada yang aneh, alasannya memang memang di sana daerah rawan terjadi gempa. "Ini lempeng tektonik, pertemuan Indo Australian dan kontinental Indonesia. Ini daerah terkunci dan sudah saatnya terjadi gempa," terangnya. Di daerah itu memang sebelumnya sudah diamati para ahli akan terjadi gempa besar, bahkan ada yang meramalkan hingga lebih dari 8 skala Richter. "Yang terjadi ini sudah gempa besar. Mudah-mudahan gempa ini yang terakhir," harap Yusuf.
Mudah-mudahan ini memang yang terakhir. Walau kemudian, ternyata .. Bukit Barisan melanjutkan amukannya hingga Kerinci, Jambi ... Bandung ... entah apa lagi. Lagi-lagi jatah kita, hanya menunggu dan kembali menjadi bagian kisah kasih ini. Allahu akbar!
Langganan:
Postingan (Atom)