site meter

Minggu, 04 Oktober 2009

Sebuah Kisah tentang Little Star Nusantara


Ini kisah menyedihkan buat saya. Meninggalkan "sekolah" gratis yang dibangun bersama orang-orang di sekitaran Sarijadi, Bandung. Dipaksa melupakan cerita-cerita, tangisan, tertawa, keusilan, dan kenakalan khas anak-anak yang "bermain" dengan dunia maya. Bahkan untuk sebuah kesungguhan, kita menyiapkan kurikulum (mungkin) terlihat kecil-kecilan. Namun semoga tidak di MATA TUHAN.

A. Belajar Ketrampilan Dasar
1. Dasar-dasar Berbahasa dan Berhitung (Basic Literacy and Numeracy)
2. English as Second Language/ Foreign
3. Arabic
4. Multimedia Studies and Projects
Program ini diantaranya ; audio, visual, audio visual, komputer, internet)
5. Origami
6. Merajut

B. Membaca Al Qur’an dan Burdah

C. Program Deen

D. Outdoor Activities
Program ini berupa kegiatan outbond atau kunjungan ke objek-objek wisata belajar seperti ; museum, tempat kerajinan, galeri seni, perpustakaan, masjid, pasar, perkebunan, kebun binatang, dan sebagainya.

C. Master-apprenticeship
Program pengembangan diri (skill acquisition) lewat sarana magang (homestay) dengan pihak-pihak yang ahli dalam bidangnya.

Semoga masih berlanjut walau dengan gaya dan cara-cara yang lain. Bismillah.Astaghfirullah. Alhamdulillah. Allahuakbar. Subhanallah.

Subhanalllah ... walhamdulillah ... wa laa ilaha ilallah wallahu akbar.....

Rabu, 30 September 2009

Hanya Menunggu Waktu


Padang,30 September 2009,Maghrib

Pesan singkat mampir di handphone GSM saya. Padang gempa 7,6 skala richter. GEMPA TEKTONIK (lagi) di tanah Minangkabau, negeri dengan pesona berbagai danau. Saya buka facebook, sudah mulai rame. "Sudah kontak kampung, Dek?" sapa kakak saya. Hmmm ... saya kehilangan satu nomor sodara saya, teman "bertengkar", si gendut ANDI yang sempat menelpon saya belum lama ini. Semoga semuanya baik-baik saja .... Coba beberapa nomer. Belum ada yang masuk. Syukurlah, masih ada yang bisa nyambung tapi posisinya bukan di Padang atau kampung ... namun di Bandung. Hehehe ... Tante saya yang memang sudah lama dan beranak pinak di Bandung itu mengabarkan, parah ... ada yang tewas, namun ada juga yang berhasil selamat sementara tempat yang didiaminya ambruk dan hancur. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Semua milik TUHAN, akan kembali lagi pada-Nya.

Ingatan saya kembali ke masa-masa kecil ketika "bermain" di kampung, tanah orang tua kami. Makan rendang belut ... wuiihhh ... dodol yang dimasak di wajan sebesar danau:) Kembali lagi ketika saya tengah kuliah, menyusuri pesonanya Sumatera Barat. Menjejakkan kaki di atas kampus Universitas Andalas yang megah itu. Konon disebut terbesar di Asia Tenggara. Menikmati pemandangan horizon, langit, gunung tinggi, dan danau di seberang sana. Bermain dengan para sepupu di pinggir pantai kota Padang. Nikmat. Subhanallah.

Namun .. kini rekaman keindahan itu nyaris hilang ... bagaimana gempa telah mengobrak abrik tatanan kota dan daerah, kampung leluhur .... seperti rekaman gempa dan tsunami yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam 2004 silam, tempat kelahiran saya.

Gempa dengan kekuatan 7,6 skala Richter di Padang Pariaman, Sumbar, dikenal sebagai wilayah gempa. Tidak heran bila kemudian terjadi gempa. Ini adalah gempa besar yang diprediksikan (detikcom). Namun sayangnya, saya belum pernah "berkunjung" ke Padang Pariaman, kampungnya Si Ajo, pedagang sate Padang yang pada masa lalu berjualan sate keliling di komplek perumahan. "Res, tusuknya dibalikin lagi, ya! Ada-ada saja uda satu itu, dmanakah dia berada kini?

"Itu sudah diprediksi. Mudah-mudahan ini gempa besar terakhir yang kita tunggu," kata Direktur Teknologi Sumber Daya Mineral BPPT Yusuf Surachman melalui telepon, Rabu (30/9/2009). Menurut pakar gempa ini, gempa di kawasan itu tidak ada yang aneh, alasannya memang memang di sana daerah rawan terjadi gempa. "Ini lempeng tektonik, pertemuan Indo Australian dan kontinental Indonesia. Ini daerah terkunci dan sudah saatnya terjadi gempa," terangnya. Di daerah itu memang sebelumnya sudah diamati para ahli akan terjadi gempa besar, bahkan ada yang meramalkan hingga lebih dari 8 skala Richter. "Yang terjadi ini sudah gempa besar. Mudah-mudahan gempa ini yang terakhir," harap Yusuf.

Mudah-mudahan ini memang yang terakhir. Walau kemudian, ternyata .. Bukit Barisan melanjutkan amukannya hingga Kerinci, Jambi ... Bandung ... entah apa lagi. Lagi-lagi jatah kita, hanya menunggu dan kembali menjadi bagian kisah kasih ini. Allahu akbar!

Senin, 28 September 2009

Tidak Bisa Dipungkiri (Lanjutan Soal Dirham)

Ini lanjutan "obrolan" kita soal dirham ...
Saya posting tulisan dalam blog ini dan "iklan" di dalam facebook beberapa hari lalu yang berjudul "Dirham : Uang Emas atau Perak". Bukan untuk memancing perdebatan, tapi hanya sekedar menyampaikan adanya "keganjilan" yang jelas menjadi keresahan buat saya, mengenai ketidaksinkronan antara kebenaran tekstual dan kenyataan kontekstual mengenai soal dirham.

Secara tekstual disebutkan dengan jelas bahwa dirham adalah uang yang terbuat dari perak. Hampir semua kita tidak menolak kebenaran ini. Namun ada fakta yang "terlihat" dalam nisan di Komplek Makam Malikussaleh dan iklan "jual" dirham Kerajaan ACEH di situs www.indonetwork.com , bahwa dirham dikatakan sebagai gold money alias uang emas. Bukan silver money atau uang perak.

Memang tidak ada yang dapat membuktikan apakah pada praktek perdagangan masa Kesultanan Aceh tempo doeloe, dirham yang digunakan sebagai alat perdagangan antar kawasan itu apakah berupa perak atau emas. Hanya memang menjadi sebuah kemirisan, jika ternyata dirham dipraktekkan sebagai uang emas. Sebab itu menjadi sebuah "pengingkaran" tekstual bagaimana sebenarnya dirham dan dinar itu diletakkan pada posisi yang tepat dan dipraktekkan dengan benar oleh sebuah kepemimpinan Islam (amirat). Wallahu'alam bisshawwab.

Minggu, 27 September 2009

Facebook, I Love U!


Pernahkah Anda merasakan situasi ketika anda pulang ke rumah dari bepergian jauh lalu membuka pagar rumah Anda yang di dekatnya ada sebuah kotak surat? Lalu ketika dibuka, SETUMPUK kartu ulang tahun tertuju buat Anda. Pada saat yang sama, esoknya adalah Hari raya IDUL FITRI. Kartu Ulang Tahun bersama Kartu Lebaran telah memenuhi kotak surat di rumah Anda saat itu. Mungkin Anda terlupa, sebab saat itu Anda (dan semuanya) memang tengah berpuasa. Shaum di bulan Ramadhan.

Realitas sekarang telah berubah. Sebab kotak surat yang masa lampau (atau dalam film kartun Donald Bebek) terletak di depan rumah dan terisi jika Pak Pos (baca ; Postman)datang, telah tergantikan oleh "kotak surat" di account surat elektronik (baca : email)yang telah disiapkan dengan sangat rapi oleh Pak Yahoo, Om Google, atau Mas MSN. Kotak surat ajaib yang dapat dimiliki oleh setiap orang (tanpa kecuali), tua muda, kecil tua .. selama memang masih HIDUP sehat wal'afiat di dunia fana ini:). Hanya dengan satu syarat : bisa membaca juga menulis. Kalau tidak, bagaimana mungkin anda bisa menulis dan mengirim surat, bukan? Pun sekadar mengucapakan, I Love U, Gute nacht pada kekasih Anda. Hehehehe ...

Bukan zamannya lagi, kata-kata indah (katanya) kalau tidak ada selipan Angpaw. Betul tak? Dunia kata-kata juga menjadi dunia bisnis yang bisa menghasilkan ribuan lembar uang kertas yang kemudian ditransformasikan menjadi emas-emas batangan yang kemudian disebut SIMPANAN alias INVESTASI. Inilah era baru, dunia-nya TRANSFORMER, saya contek dari judul film kartun anak-anak.

Arus yang demikian hebat ini telah menghubungkan desa dan kota, teman lama dan teman baru, kekasih lama dan kekasih baru (semoga yang terakhir, adalah pasangan anda). Mengingatkan kembali kenangan kita akan masa kecil dan tanggal penting yang kita yakini "keramat". Masa-masa kelahiran, kematian, momen-momen terindah seperti pernikahan dan mendapatkan penghargaan atas karya-karya besar. "Diikat" erat dan indah oleh sebuah jaringan sosial terindah yang saat ini banyak disebut orang dengan Facebook. Yah, Facebook, I Love U ....

Hmmmm ..... semoga menyenangkan. Hari-hari membaca dan menulis buat Anda!

Sabtu, 12 September 2009

Apa yang Ada di Kepala


Sepiring nasi panas, sepotong rendang padang buatan ibu tercinta ditambah beberapa sendok sayur lodeh khas ibuku, lemang tapai yang dibeli papa di pasar Batuphat ...
Ah, kenangan masa kecil. Anak kampung yang main sepeda kemana-mana. Rambut yang dipotong pendek, si tukang nangis. Huahuahuahua ...

Sementara itu catatan yang tersisa menjelang lebaran ini. Kenapa gua jadi sentimentil ya. Naik kapal laut dari Tanjung Priok menuju Belawan. Bawa tas ransel. Berat. Bergegas menuju Lhokseumawe. Bertemu orang-orang tercinta. Menyenangkan.

Alhamdulillah. Eid Mubarak!Syawal 1430 H ...

Lebaran ini, seorang teman mengirimkan lamang tapai idaman saya ini, langsung dari Bukittinggi. Oiiii .. lamaknya ... siapo nak mancubo? Lihat dulu, baru beli ... !!!!

Selasa, 08 September 2009

Dirham : Uang Emas atau Perak ?


Mengapa saya kembali mempertanyakan ini? Manakah yang benar, dirham itu uang emas atau uang perak?

Zaim Saidi dalam www.wakalanusantara.com, menjelaskan, "Dalam literatur-literatur klasik nuqud (jamak dari kata naqd) digunakan untuk menyebut alat tukar terbuat dari emas (dinar) atau perak (dirham) sedangkan fulus (jamak dari kata fals) digunakan untuk menyebut alat tukar selain terbuat dari emas dan perak seperti tembaga, besi, dan sebagainya. Dalam konteks sekarang fulus akan terbuat dari kertas khusus, sejenis dengan kertas yang dipakai sebagai bahan uang fiat (uang kertas), agar tak mudah sobek dan rusak."

Dari sumber lain disebutkan, dirham Perak Islam adalah koin perak murni dengan berat 2.975 gram. Sejak masa sebelum Islam, dinar emas dan dirham perak adalah alat tukar yang digunakan berbagai bangsa seperti Persia, Romawi, Israel, Yunani, Mesir kuno, Nabataens dan Tubba (Yaman), please klik www.islamhariini.org.

Tak ketinggalan, di dalam pada http://en.wikipedia.org/wiki/Dirham, dijelaskan bahwa The first dated coins that can be assigned to the Muslims are copies of silver Dirhams of the Sasanian Yezdigird III, struck during the Caliphate of 'Uthman, radiallahu anhu.

Dari berbagai sumber di atas, sangat jelas bahwa yang disebut dirham adalah uang perak yang digunakan dalam kepemimpinan Islam (khalifah). Namun, ada fakta menarik yang ingin saya sampaikan disini, ketika berkunjung ke Komplek Makam Sultan Malikussaleh di Lhokseumawe, Aceh Utara (seperti yang tampak dalam foto), tertulis di atas nisan (dikuatkan pula dengan penuturan seorang "abang" tinggal di sekitaran lokasi makam)yang bahwa yang disebut dirham itu adalah gold money (bukan silver money). Demikian petikannya "
Sultan Muhammad (Malikul Dhahir)
(1297 - 1326)

Malikul Dhahir was Malikus Saleh's son. He had established the foreign trade and Islam hed been spreadedup to foreign countries the gold money (dirham) was used in his Prior.

Dalam sebuah situs, (http://keueh.indonetwork.co.id/1465304/uang-logam-emas-kerajaan-aceh.htm), seorang pengusaha asal Aceh, Tn. Fazli yang menjual uang logam emas Kerajaan Aceh juga menyebut bahwa dirham adalah uang logam/ koin emas. Berikut petikannya, "Jual uang logam/koin emas kerajaan islam aceh (dirham emas), Dirham pertama yang keluar di kerajaan aceh pada masa pemerintahan Sultan Malikul Saleh abad ke 12 masehi (beliau adalah pendiri kerajaan islam pertama di samudera pasai bernama Kerajaan Islam Samudera pasai)di aceh utara saat ini. Malikhul Shaleh ‘Alallah, berkuasa thn 1261-1295 M, Pendiri kesulthanan Islam pertama Samudera Pasai di Aceh Utara saat ini.‘Athaillah (dibawah lindungan Allah). 100% di jamin keasliannya ( warisan keluarga)."

Dari uraian di atas, bagaimana kata Anda?

Minggu, 06 September 2009

Kuingin mencintaimu dengan sederhana

Kuingin mencintaimu dengan sederhana...
Seperti kata yang tak sempat diucapkan sebuah kayu kepada api yang
menjadikannya abu. Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Lewat kata yang tak sempat disampaikan awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Seorang sahabat kutanyakan tentang cinta, dia menjawab :
cinta adalah pengorbanan sampai akhir, cinta adalah keikhlasan dan kesabaran dalam batas-batas adab. MENDALAM!