Apa yang saya ingat dari Frankfurt? International Book Fair digelar disana. Mas Hernowo dan Mas Putut Widjanarko adalah orang yang sempat disana untuk sebuah undangan. Bukan sekedar memboyong buku-buku Mizan untuk dipajang dalam perhelatan bergengsi dan akbar itu, namun mereka membawa wajah Indonesia untuk sebuah pameran buku berskala dunia. Jika saya tidak salah, Mas Hernowo pernah bercerita bagaimana perjalanannya ke Frankfurt pada zaman batu itu di sebuah acara diskusi World Book.
British Council juga ada disana. Kalo salah ya, nasib saya. Mengapa harus Frankfurt? (Tentu karena saya tidak bicara tentang Postdam, sebuah kota “kecil” di Jerman yang dikenal dengan Islamischezeitungnya). Adakah Mas Her dan Mas Putut mampir sejenak ke Prancis? Entahlah?! Mas Her dan Mas Putut did travelling long time ago. Seorang wartawan di kantor berita ANTARA, Tony Ryanto juga menuliskan kisah perjalanannya keliling dunia termasuk ke Frankfurt dalam sesi : When in Rome, Do Like the Romans Do. What happen in Rome?
Tony Ryanto berjalan dari Frankfurt-Singapore, tentu fly by plane (Aduh, jadi ingat John Denver, Leaving on a Jet Plane). Kisah perjalanan itulah yang ia ceritakan dalam buku Perjalanan Wartawan Boke’ Keliling Dunia (2003, A Nexxmedia Book).
site meter
Selasa, 11 Januari 2011
TRIAS POLITICA : wikileaks VS indoleaks
Beberapa hari sebelum idul Qurban, Allah memudahkan kaki saya untuk melangkah ke sebuah masjid, Darussalam namanya. Masjid yang tidak terlalu besar, berada di sebuah kawasan pemukiman besar pinggiran Jakarta, sudah masuk Bogor. Saya hendak shalat. Bismillah. Tak sengaja terdengar suara seorang dewasa, perempuan, berteriak, “Masukkan aku ke Kristen, Ayah.” Subhanallah, berdesir darah saya. Hanya ingin meyakinkan bahwa sungguh itu bukan suara buah hati saya yang masih kecil2. Saat itu, beberapa pria duduk dan berdiri di pelataran masjid. Mungkin para panitia Qurban (berjenggot soalnya).
What happen? Ada apa dengan jenggot, Qurban, dan Kristen?
Jenggot itu katanya sunnah rasul tapi saya tidak tau apakah rasul itu senang menggunakannya atau tidak. Qurban itu kisah tentang Ibrahim dan Ismail, seorang ayah dan anak lelakinya. Kristen? Is it a religion? Ups, sorry friend. I think, it’s not a religion. Dalam pikiran saya Kristen hanya sebuah keyakinan, berhenti sampai disana. Agama adalah norma, disana ada kitab suci. Kesucian datang dari langit (samawi). Dalam konteks itulah, agama yang dikenal dan dipahami hanyalah 3 ; Islam, Nasrani, dan Yahudi. Ini dogma? No way. Itu tidak bisa diingkari dan diotak-atik. Pengotak-atikan ketiganya akan mengantarkan kita pada keruwetan, kejumudan, dan absurditas. Dalam sebuah buku usang, “Why Religion” yang ditulis seorang Pakistan, Prof. Dr. Syed Zafar ul Hasan dipaparkan : tentang apa yang sebaiknya atau seharusnya kita lakukan dan sebaiknya atau seharusnya menjadi apakah kita?
Kehidupan berarti aksi. Aksi adalah bergerak. Tidak ada kehidupan yang statis sebabnya kehidupan adalah gerak dan bergerak, maka itu ia harus dinamis. Roda, itukah kedinamisan? 2 pertanyaan di atas tidak dapat kita elakkan. Hari ini ataukah besok harus muncul dalam hati seorang manusia. Hanya ada 2 tuntutan yang bisa menjawab pertanyaan itu : satu adalah alasan, lainnya wahyu. Satu adalah filsafat, lainnya agama. Selanjutnya .. let’s find Professor Dr. Syed Zafar ul Hasan di Karachi by a memo : with the approval of World Federation of Islamic Mission. Hope ALLAH bless him as long as his LIFE.
What happen? Ada apa dengan jenggot, Qurban, dan Kristen?
Jenggot itu katanya sunnah rasul tapi saya tidak tau apakah rasul itu senang menggunakannya atau tidak. Qurban itu kisah tentang Ibrahim dan Ismail, seorang ayah dan anak lelakinya. Kristen? Is it a religion? Ups, sorry friend. I think, it’s not a religion. Dalam pikiran saya Kristen hanya sebuah keyakinan, berhenti sampai disana. Agama adalah norma, disana ada kitab suci. Kesucian datang dari langit (samawi). Dalam konteks itulah, agama yang dikenal dan dipahami hanyalah 3 ; Islam, Nasrani, dan Yahudi. Ini dogma? No way. Itu tidak bisa diingkari dan diotak-atik. Pengotak-atikan ketiganya akan mengantarkan kita pada keruwetan, kejumudan, dan absurditas. Dalam sebuah buku usang, “Why Religion” yang ditulis seorang Pakistan, Prof. Dr. Syed Zafar ul Hasan dipaparkan : tentang apa yang sebaiknya atau seharusnya kita lakukan dan sebaiknya atau seharusnya menjadi apakah kita?
Kehidupan berarti aksi. Aksi adalah bergerak. Tidak ada kehidupan yang statis sebabnya kehidupan adalah gerak dan bergerak, maka itu ia harus dinamis. Roda, itukah kedinamisan? 2 pertanyaan di atas tidak dapat kita elakkan. Hari ini ataukah besok harus muncul dalam hati seorang manusia. Hanya ada 2 tuntutan yang bisa menjawab pertanyaan itu : satu adalah alasan, lainnya wahyu. Satu adalah filsafat, lainnya agama. Selanjutnya .. let’s find Professor Dr. Syed Zafar ul Hasan di Karachi by a memo : with the approval of World Federation of Islamic Mission. Hope ALLAH bless him as long as his LIFE.
Saiful dan Yusuf Islam
Saya tidak sedang bercerita tentang dunianya KD. Saya ingin bercerita tentang Islam dengan melihat 2 sosok yang saya kenal dekat dan jauh. Sosok terdekat adalah Saiful Islam Mubarak. Seorang pria yang sempat saya datangi untuk belajar membaca Al Qur’an dengan metode tahsin. Bersama teman-teman masa SMA, kami mendatangi rumah ustad Saiful saat itu. Ternyata bapak itu sudah menikah dan telah dikaruniai anak. Beliau juga lulusan Timur Tengah (belakangan saya baru menyadari bahwa ustad Saiful bergelar Lc). Nama indah, seindah alunan Al Qur’an yang dibacakan ustad SIM, Lc dan “kerasnya” ia mengajarkan tahsin. Berulang-ulang hanya untuk satu ayat. Bagaimana dengan Yusuf Islam? Saya ramah dengan nama itu ketika saya kembali in touch with internet. Mencari Yusuf Islam mengantarkan saya pada nama Cat Steven dan Islamic Education Waqf yang dijalankannya bersama komunitas muslim UK. Di internet, Cat Steven/ Yusuf Islam menjadi lebih popular dari seorang Ian Dallas walau mereka sangat karib. Adakah karena YI seorang singer dan ID hanyalah penulis buku-buku berkualitas miliknya sendiri ? (read again : Collected Works of Ian Dallas).
HoneyMonth
Kenapa sih gak datang? Gw kan nungguin… ketemu Mang Odin yang zaman kuliah doi jualan teh botol kan ya? Mang Odin mau naek haji taon ini. 1431 H, kayaknya… soalnya pas ketemu bulan Zulhijjah. Jadi gak mungkin kan ya haji bulan Muharram. Emang haji apaan bulan Muharram? Dari dulu gua taunya haji tuh bulan Zulhijjah, namanya Arafah atau ADHA Mubarak dongs! Abis itu ya happy new year. Gua gak enak ama Mang Odin, soalnya gua ngaku2 jadi pengusaha, Han. Maksud gua sih elu, soalnya Mang Odin nanya2 sih, jadi aja gua ngarang. Sayangnya abis makan empek2, si Cak2 kagak nraktir teh botol, dia malah beli tahu sumedang. Taulah gua udah eneg banget makan telur asin gara2 yang jualnya teh Neni. Ya iyalah teteh Neni yang suka diteriakin ama Buhe kalo dah aja telat2 masuk dan nyuruh beres2in perpustakaannya Bu Ea. Tapi, napa teh Neni kagak bareng Pak Usep sih? Sebenarnya gini, Han. Gw pengen nanya2 soal bisnis dan lahan lo yang nilainya over one limosine itu. Trus gua jg pengen tau, sebenarnya posisi lo dimana? Terakhir kan gua ketemu lo, gua kagak inget lagi. Gua kirain kita akan ketemu di Mall Taman Anggrek … eh gw malah nyangkut di Pondokan. Ya, enak gak eneg sihhhhh … Whatever, gua cuma bilang, thank you for your kindness ya …!
Membangun IDENTITAS
Seseorang di dunia lain bertanya pada saya melalu Fb. Are u Malaysian or Singaporian? Dengan bangga saya menjawab, I’m Indonesian. Mengapa? Sebab dia bertanya, jadi aja kewajiban saya menjawab. Kebetulan dia bertanya pada saya, bukan lainnya. Lalu saya kembali membalasnya, what is happenning? Is problem with an identity? Dia senang, saya membalas. Sebuah dialog adalah komunikasi, itu fitrah. Manusia tidak bisa tidak berkomunikasi. Jika terjadi gangguan atau keributan dalam berkomunikasi, itu biasa. Sebab yang terpenting adalah jangan lupa untuk selalu berkomunikasi. Apakah komunikasi hanya milik mahasiswa komunikasi? Tidak!!! Komunikasi adalah milik makhluk hidup, apalagi manusia.
Kembali pada soal identitas. Sebuah tulisan menarik ditulis oleh seorang editor Majalah Teknopreneur, Andy M. Zaky. Dalam edisi spesial Juni 2010, ia menulis : IDENTITAS ada di KONTEN. Seorang bertanya kewarganegaraan/ kebangsaan saya dan saya menjawab bahwa saya adalah Indonesia, itulah IDENTITAS. Lebih lengkap? KTP, itulah bukti identitas kewarganegaraan. Menyambung pikiran TP, Indonesia dapat dilihat jika memang ada kontennya. Konten apaan? Konten itu ISI. Indonesia dapat dilihat bentuknya jika ada isinya alias tidak kosong. No ZERO for identity. Trus, gimana dong … ! Gini sayang, sekarang lagi ngapain? Lagi pegang apa? Baca! Buku? Iya! OK. Buku ada isinya? ADA. tulisan. Buku apa? Buku TULIS. Tah itu tuh masalah, buku tulis itu harus ditulis bukan dibaca, yang dibaca ya NOVEL. Abis baca NOVEL, tulislah resume-nya di buku tulis. Kok? Sebab kita sedang berlatih untuk mengisi Identitas kita, mengisi kepala kita agar tidak kosong. Sebab jika kosong, kita tidak lagi bisa punya identitas. Kosongkan pikiran, marilah berlatih membangun identitas.
footnote : bloggerian signs on the earth
pemilik www.politikana.com
Kembali pada soal identitas. Sebuah tulisan menarik ditulis oleh seorang editor Majalah Teknopreneur, Andy M. Zaky. Dalam edisi spesial Juni 2010, ia menulis : IDENTITAS ada di KONTEN. Seorang bertanya kewarganegaraan/ kebangsaan saya dan saya menjawab bahwa saya adalah Indonesia, itulah IDENTITAS. Lebih lengkap? KTP, itulah bukti identitas kewarganegaraan. Menyambung pikiran TP, Indonesia dapat dilihat jika memang ada kontennya. Konten apaan? Konten itu ISI. Indonesia dapat dilihat bentuknya jika ada isinya alias tidak kosong. No ZERO for identity. Trus, gimana dong … ! Gini sayang, sekarang lagi ngapain? Lagi pegang apa? Baca! Buku? Iya! OK. Buku ada isinya? ADA. tulisan. Buku apa? Buku TULIS. Tah itu tuh masalah, buku tulis itu harus ditulis bukan dibaca, yang dibaca ya NOVEL. Abis baca NOVEL, tulislah resume-nya di buku tulis. Kok? Sebab kita sedang berlatih untuk mengisi Identitas kita, mengisi kepala kita agar tidak kosong. Sebab jika kosong, kita tidak lagi bisa punya identitas. Kosongkan pikiran, marilah berlatih membangun identitas.
footnote : bloggerian signs on the earth
pemilik www.politikana.com
Love in Love
Rasa itu menyesakkan, dada bergejolak, pikiran berkecamuk
Detik pada jam dinding seakan berhenti detaknya
Itukah cinta yang digambarkan dengan bongkahan hati
Mata mencari sang pemilik, pengatur lintasan dan orbit
Adakah posisi masih pada porosnya?
TASARO dalam GK mengajak kita melihat cinta dari sisi yang tidak biasa
Menarik pembaca untuk menempatkan cinta pada tempatnya
Cinta tidak buta dan bukan sekedar menjadi pembungkus kacang
Kesuciannya datang dari langit, menyatukannya dalam kesepasangan
Tentu tak enak hanya menggunakan satu sepatu sebab “biasanya” kaki manusia ada dua bukan?
Detik pada jam dinding seakan berhenti detaknya
Itukah cinta yang digambarkan dengan bongkahan hati
Mata mencari sang pemilik, pengatur lintasan dan orbit
Adakah posisi masih pada porosnya?
TASARO dalam GK mengajak kita melihat cinta dari sisi yang tidak biasa
Menarik pembaca untuk menempatkan cinta pada tempatnya
Cinta tidak buta dan bukan sekedar menjadi pembungkus kacang
Kesuciannya datang dari langit, menyatukannya dalam kesepasangan
Tentu tak enak hanya menggunakan satu sepatu sebab “biasanya” kaki manusia ada dua bukan?
Indonesia : an Unlikely Nations ?
Suatu saat, saya membantu suatu proyek dan menjadi bagian dari tim. Seseorang menegur saya, bisakah saya menerjemahkan buku-buku yang ditulis oleh seorang guru dari sebuah gerakan dakwah. Sang guru sudah teramat tua, ia banyak menulis sekarang, pada usia senjanya selain masih terus mengajar. Urusan gerakan dakwah sudah lebih banyak diurus para murid-muridnya. Saya tidak menjawab sebab saya juga sedang belajar kembali menulis naskah-naskah seperti sang guru. Untuk satu naskah saja, saya letih luar biasa. Tak mudah memang menuliskan sesuatu apatah lagi mentransformasikan sebuah ilmu pengetahuan. Beberapa tulisan sang guru diterbitkan menjadi buku-buku yang memiliki karakter dan citarasa sendiri. Coba saja lihat :
Book of Strangers (pernah diterbitkan Penerbit Pustaka Bandung dengan judul Yang Asing dan Terasing)
Book of Hubb
Book of Tawhid
Book of ‘Amal
Time of Bedouin
dan lain sebagainya
Saya menyerah sebab naskah itu ditulis dengan citarasa Sang Guru yang tak mampu saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mengapa? Dalam pikiran dan pandangan saya bahasa Indonesia itu teramat sempit sehingga transliterasi buku2 Sang Guru agak mengkhawatirkan bagi saya. Saya khawatir ada makna yang tak mampu ditangkap oleh bahasa Indonesia. Penerjemahan akankah menyempitkan makna yang ingin disampaikan Sang Guru?
Di dunia maya, saya berkenalan dengan seorang anak muda, mengaku keturunan Pakistan. Ia ingin sekali ke Indonesia karena menurut teman-temannya di Indonesia banyak pemandangan indah. Dia bertanya pada saya, sungguhkah demikian?
Saya jawab begini, “Benar, Indonesia indah seperti Bali setelah bom Bali dan Aceh abis tsunami.”
Dia tambah antusias terlebih setelah saya bilang, dia ganteng sekali walau saya lebih suka Amitabachan karena kepintarannya menari dan menjadi icon bagi industri film India, Bollywood. Seorang India menyambung, apakah karena Amitabachan milyuner saya nge-fans berat padanya? Saya kurang ngerti juga, iyakah Amitabchan milyuner, bukankah Shah Rukh Khan dengan Kuch-kuch Hota Hai-nya? Si Pakistan semakin ingin mencari kerja di Indonesia (saat itu ia sedang berada di Saudi) dengan alasan sepertinya Saudi terlalu pelit untuknya. Namun saya agak curiga, jangan2 karena saya bilang banyak gadis cantik di Indonesia dan mereka juga pintar-pintar. Dia semakin larut tentang cerita saya mengenai Indonesia namun saya tak mampu mengundangnya ke Indonesia sebab saya merasa bosnya agak berat memberikan surat PHK untuknya dan parahnya juga saya kena sakit keras karena harus meladeninya ngobrol malam-malam dan hujan-hujanan. Akhirnya saya bilang begini, sudahlah, kamu bantuin saya nulis cerita tentang perjalanan umrah (ia sudah umrah dua kali). Wah, susah katanya. Saya mensugestinya, itulah satu-satunya cara agar ia bisa keluar dari Saudi, menuliskan kisahnya dalam bahasa Urdu. Dia tetap menolak saran saya. Saya pun terpaksa memaksanya untuk menulis dan dia menyerah. Menjelang Idul Fitri dia menelpon saya dari Saudi. Sepertinya ia ingin pamit mudik ke Karachi. Ia bilang begini,
“Ires, Ied Mubarak ya? Aku akan pulang ke Karachi. Kamu lebaran dimana?”
Saya sedih dia menelpon saya saat di masjid terdengar gema takbir tahlil dan tahmid.
“Hi, dear … lebarannya besok, di Indonesia. Kapankah di Karachi?”
“Hari apa esok, Ires?”
“Jumat!”
“Oooohhh … di Karachi, Sabtu .. dear!”
Book of Strangers (pernah diterbitkan Penerbit Pustaka Bandung dengan judul Yang Asing dan Terasing)
Book of Hubb
Book of Tawhid
Book of ‘Amal
Time of Bedouin
dan lain sebagainya
Saya menyerah sebab naskah itu ditulis dengan citarasa Sang Guru yang tak mampu saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mengapa? Dalam pikiran dan pandangan saya bahasa Indonesia itu teramat sempit sehingga transliterasi buku2 Sang Guru agak mengkhawatirkan bagi saya. Saya khawatir ada makna yang tak mampu ditangkap oleh bahasa Indonesia. Penerjemahan akankah menyempitkan makna yang ingin disampaikan Sang Guru?
Di dunia maya, saya berkenalan dengan seorang anak muda, mengaku keturunan Pakistan. Ia ingin sekali ke Indonesia karena menurut teman-temannya di Indonesia banyak pemandangan indah. Dia bertanya pada saya, sungguhkah demikian?
Saya jawab begini, “Benar, Indonesia indah seperti Bali setelah bom Bali dan Aceh abis tsunami.”
Dia tambah antusias terlebih setelah saya bilang, dia ganteng sekali walau saya lebih suka Amitabachan karena kepintarannya menari dan menjadi icon bagi industri film India, Bollywood. Seorang India menyambung, apakah karena Amitabachan milyuner saya nge-fans berat padanya? Saya kurang ngerti juga, iyakah Amitabchan milyuner, bukankah Shah Rukh Khan dengan Kuch-kuch Hota Hai-nya? Si Pakistan semakin ingin mencari kerja di Indonesia (saat itu ia sedang berada di Saudi) dengan alasan sepertinya Saudi terlalu pelit untuknya. Namun saya agak curiga, jangan2 karena saya bilang banyak gadis cantik di Indonesia dan mereka juga pintar-pintar. Dia semakin larut tentang cerita saya mengenai Indonesia namun saya tak mampu mengundangnya ke Indonesia sebab saya merasa bosnya agak berat memberikan surat PHK untuknya dan parahnya juga saya kena sakit keras karena harus meladeninya ngobrol malam-malam dan hujan-hujanan. Akhirnya saya bilang begini, sudahlah, kamu bantuin saya nulis cerita tentang perjalanan umrah (ia sudah umrah dua kali). Wah, susah katanya. Saya mensugestinya, itulah satu-satunya cara agar ia bisa keluar dari Saudi, menuliskan kisahnya dalam bahasa Urdu. Dia tetap menolak saran saya. Saya pun terpaksa memaksanya untuk menulis dan dia menyerah. Menjelang Idul Fitri dia menelpon saya dari Saudi. Sepertinya ia ingin pamit mudik ke Karachi. Ia bilang begini,
“Ires, Ied Mubarak ya? Aku akan pulang ke Karachi. Kamu lebaran dimana?”
Saya sedih dia menelpon saya saat di masjid terdengar gema takbir tahlil dan tahmid.
“Hi, dear … lebarannya besok, di Indonesia. Kapankah di Karachi?”
“Hari apa esok, Ires?”
“Jumat!”
“Oooohhh … di Karachi, Sabtu .. dear!”
Langganan:
Postingan (Atom)